Oleh: Fathy Farhat khan | November 13, 2008

Mutiara Hidup Pekan Ini

ready-to-summit-attack1. “Sesuatu yang tidak sampai membunuhmu akan membuatmu lebih kuat.” (Nietchze-filsuf Jerman)

2. “Jika kau lunak kepada kehidupan maka kehidupan akan keras kepadamu, tapi jika kau keras kepada kehidupan maka dia akan lunak terhadapmu.” (Andre Wongso)

3. “Jika buku adalah jendela dunia , maka internet yang merupakan bom nuklir terbesar abad 21, adalah Pintu dunia, bukankah pintu lebih lebar dari jendela?” (Farhat Khan)

4. “…dan bermimpilah, maka Tuhan kan memeluk mimpi-mimpimu….”(Ikal)

5. “Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.” (Soe Hok “Sang Demonstran” Gie)

Oleh: Fathy Farhat khan | Oktober 16, 2008

ARTI SEBUAH PENCERAHAN


Ada seorang kawan berkata:
Bulan Ramadhan kmaren adalah bulan penuh keagungan, bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan…
Bulan dmana kita berkesempatan tuk berburu dan meraih malam lailatul qodr, malam yang lebih baik dari seribu bulan….
Tapi aku gak tahu apakah aku mendapatkan anugerah malam lailatul qodr itu, tapi yang jelas aku insya allah dah berusaha dan ikut serta dalam arena ajang perburuan malam nan agung itu melalui arena I’tikaf…..
Walaupun hasilnya aku gak tahu tapi yang pasti aku bersyukur kali ini, yang pasti aku bahgia selepas ramadhan ini, selain karena target dari amalan ramadhan yang tlah ku planingkan tlah tercapai berkat kemurahan-Nya tentunya….., juga karena ada hal penting yang menurutku cukup istimewa…..apakah itu wahai kawan? Dia adalah “pencerahan”, yups……, pencerahan! Menurutku itu hal yang pasti dan penting ! hal itulah yang menurutku lebih bisa memberikan atsar, memberikan bekas, memberikan power untuk menjalani bulan-bulanku setelah ramadhan ini……..
Thanks god! Tlah menganugerahiku di bulan ramadhan ini dengan sebuah mutiara hikmah ini…..
Alhamdulillahirobbil ‘alamiiin…..

Jadi wahai saudaraku…, pencerahan apa yang kau dapatkan di bulan penuh berkah itu…???? :-)

Oleh: Fathy Farhat khan | Oktober 13, 2008

Memaknai sbuah persahabatan…

Memaknai sbuah persahabatan…

Tahukah kau wahai kawan….., diri ini memaknai sebuah persahabatan dengan cukup mendalam, maka aku sering ngirim email tentang artikel yang menurutku bagus dan bermanfaat, silaturahim sederhana dengan ngucapin selamat atas moment tertentu….tapi……

Tapi mungkin masih, hanya, dan cuma sebatas itulah aku bisa mengejawantahkan atas pemaknaanku akan sebuah persahabatan yang mendalam…, belum bisa lebih besar dari itu….., belum bisa lebih dari itu…..

Bahkan membayangkan wajah tulusmu dalam robithohku saja kadang tidak sempat aku lakukan, maka semoga do’a yang kutulis ini kan menjadi do’a yang bisa “autorun” , dan terus menerus “stand by”, terus menerus bergema terlantun melalui teknologi computer ini yang kan mewakili lisanku dan tentunya secuil dari ketulusan hatiku tlah mengiringi do’a ini yang tlah ku “kanibal”-kan dalam tulisan dan perangkat computer itu yang insya allah bisa langsung slalu “plug en play”… :-)

[Autorun]

Do’a: “Ya Allah, Engkau tahu hati-hati ini tlah berhimpun dalam cinta pada-MU, tlah berjumpa dalam taat pada-Mu, tlah bersatu dalam dakwah paada-Mu, tlah berpadu dalam membela syaari’at-Mu, teguhkanlah, ya Allah, ikatannya.Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati tersebut dengan cahaya-Mu yang tak kan pernah hilang. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan iman pada-Mu. Hidupkanlah hati kami dengan Ma’rifat pada-Mu.Matikanlah ia dalam syahid di jalan-Mu.Sungguh, Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah, kabulkanlah. Dan sampaikan salam serta shalawat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, para sahabatnya, dan juga sampaikan salam.”.text

Bagaimana menurutmu, wahai kawan..????

Oleh: Fathy Farhat khan | September 15, 2008

MY TOBE

Oleh : Jamil Azzaini

Bila Anda ingin melakukan acara di kantor atau di komplek perumahan, apakah Anda membuat proposal atau perencanaan kegiatan? Sebagian besar Anda pasti menjawab, “Ya, saya membuat.” Kepanitiaan di kantor atau di komplek perumahan hanya berlangsung beberapa bulan saja Anda membuat proposal. Mengapa? karena Anda tidak ingin kegiatan itu gagal atau berantakan. Anda tidak ingin bertaruh.

Hidup Anda jauh lebih lama dibandingkan kegiatan kepanitiaan. Seharusnya Andapun membuat proposal hidup agar hidup Anda tidak berantakan. Namun, banyak diantara kita yang justeru serius terhadap kegiatan yang hanya berlangsung beberapa bulan dan abai terhadap hidup kita yang berlangsung puluhan tahun.

Anda perlu membuat proposal hidup, blue print hidup. Saya menyebutnya MY TOBE. Isi dari MY TOBE adalah penjabaran dari bintang terang/impian hidup/prestasi tertinggi yang ingin di raih. Saya menyarankan, jangan main-main dengan hidup Anda. Susun MY TOBE Anda yang melibatkan pasangan hidup, orang tua, saudara dan kerabat serta guru kehidupan.

Saya sendiri membuat MY TOBE dengan konsep KIAT JAMIL yang merupakan singkatan Kesuksesan dimulai dengan menuliskan Bintang Terang. Identifikasi kekuatan dan kelemahan diri. Allah & Rosul merupakan hakim atas semua perbuatan saya. Tingkatkan terus kemampuan.

JAMIL. Jaringan diperluas dan dipelihara. Ambilah resiko yang menantang. Milikilah komitmen. Ikrarkan bintang terangmu. Lakukan secara bertahap. Masing-masing poin tersebut saya rinci sebagai mana layaknya proposal. Bila saya lagi lemah semangat maka segera saya baca MY TOBE dan semangat itu akhirnya muncul kembali.

KIAT JAMIL merupakan MY TOBE saya. Saya buat Jamil banget. “nendang” untuk saya tapi belum tentu “nendang” untuk orang lain. Saya sampaikan ini semoga memberi inspirasi buat Anda bukan agar Anda juga membuat KIAT JAMIL. Tapi saya menyarankan Anda membuat MY TOBE yang Anda banget.

Bila saya baca MY TOBE bulu kuduk saya berdiri, merinding. Inilah proposal yang kelak akan saya pertanggungjawabkan dan saya banggakan di hadapan Sang Pencipta.

Rincian detil MY TOBE yang berjumlah kurang lebih 12 halaman itu saya berikan kepada istri, orang tua, saudara, sahabat, guru kehidupan dan orang-orang yang saya percaya. Dari mereka semua saya memperoleh masukan dan komentar tentang MY TOBE saya. Setelah masukan dan komentar itu saya olah, jadilah MY TOBE yang berjumlah 12 halaman itu

MY TOBE itu akhirnya saya cetak dan saya bawa ke tanah suci. Disanalah MY TOBE itu saya sampaikan kepada Allah, Sang Pengatur Hidup. Merinding ketika saya menyampaikan MY TOBE itu. Menangis saya ketika menyampaikan itu kepada yang memberi saya hidup. Ketika itu, saya benar-benar sedang berdialog dengan-Nya. Saya sedang memohon agar proposal saya itu disetujui oleh Sang Pemberi Nikmat. Itulah presentasi terbesar dalam sejarah hidup saya.

“Ya Allah, inilah jalan hidup yang akan saya tempuh. Bila dengan ini Engkau semakin mencintaiku, keberadaanku memberi manfaat untuk orang-orang di sekitarku, bantu aku. Tapi bila dengan ini Engkau menjauh dariku, keberadaanku menambah beban orang-orang yang mencintaiku, jauhkan aku”

MY TOBE saya yang merupakan proposal hidup sudah saya sampaikan kepada Sang Pengatur Alam, Allah. Sejak saat itu, setiap langkah yang saya lakukan selalu merujuk pada MY TOBE. Bila saya bingung, saya baca kembali MY TOBE itu. Bila ada perkembangan terbaru yang terjadi di dunia, saya teliti lagi MY TOBE saya. Bila suatu saat perlu disesuaikan dengan perkembangan dunia, MY TOBE itu akan saya sesuaikan.

MY TOBE itu menjadikan hidup saya semakin hidup, penuh gairah dan saya merasa mengalami berbagai lompatan kehidupan setelah MY TOBE itu saya presentasikan di tanah suci. Nah, bila hidup Anda ingin lebih bergairah, terarah, semakin bermakna dan mengalami berbagai lompatan besar, buatlah MY TOBE. Jangan pertaruhkan Anda.

Oleh: Fathy Farhat khan | Agustus 29, 2008

Filosofi Pendakian ala Michaelangelo

“Filosofi Pendakian ala Michaelangelo”

(Gb:Sunrise di Sindoro berlatar Sumbing)

“Human interest adalah penjelajahan terbesar seorang petualang”

Apabila Sahabat seorang peminat olahraga mendaki gunung yang serius tentunya setelah pendakian pertama Sahabat tidak kapok dan berhenti begitu saja, namun mencari informasi-informasi yang relevan untuk pendakian selanjutnya. Dan begitulah seterusnya sampai Sahabat lupa telah berapa gunung yang didaki atau pendakian yang keberapa yang Anda lakukan.

Setelah melakukan pendakian gunung yang pertama, bahkan yang kesekian kalinya, maka kita mulai mendapatkan gambaran yang obyektif tentang sebuah pendakian. Kita telah merasakan perlunya memperhitungkan waktu pendakian, perlengkapan standar untuk sebuah perjalanan yang nyaman berikut memahami prosedur keamanan sebuah perjalanan.

Because it is there?
Bagi seorang pendaki gunung sering terbersit pemikiran yang simpel, yaitu mendaki gunung cukuplah sebagai mendaki gunung. Tak perlulah seorang pendaki membuat dan memikirkan argumentasi sedemikian rupa untuk menjelaskan kenapa mereka melakukannya. Toh, bagi orang awam apapun argumentasinya, kegiatan mendaki gunung tetaplah dianggap hal yang tak masuk di akal.

Maka Sir George Leigh Mallory (1886-1924) –-hilang dalam expedisi Everest 1924– hanya menjawab singkat setengah kesal “Because it is there…” saat ditanya kenapa ia ingin menaklukan puncak gunung. Segera saja umpatan singkat itu diimbuhi dengan seabreg filosofi pendakian yang berat dan populer hingga kini, walau sebuah rumor –yang tak perlu Anda percayai– menyebutkan Sir Mallory saat itu sedang terburu-buru menuju ke toilet.Tapi bagi seorang “Real Backpaker” tetaplah mendaki gunung dengan visi dan misi yang paling sempurna, dengan niat dan oriantasi yang paling agung, dengan motivasi yang dapat dipertanggungjawabkan dihadapan sang Pencipta gunung! Karena, wahai sahabat, besok, kelak, kaki, tangan, mulut kita kan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang tlah dikerjakannya.

The Seven Summits
Pendakian kawasan dalam konteks internasional telah populer sejak beberapa masa lalu di mana para pendaki elite membagi belahan dunia ini ke dalam tujuh kawasan dengan masing-masing puncak tertingginya (seven summits). Salah satunya adalah kawasan Australia-Oceania di mana puncak tertinggi berada di Indonesia, yaitu Carstenz Pyramid (4.884 meter dpl) di Papua.

Sungguh tak ada salahnya bila dalam melakukan pendakian gunung di Tanah Air ini kita melebarkan minat pendakian ke kawasan nusantara lainnya. Tentunya akan banyak pengalaman baru di tengah karakter gunung yang berbeda bila kita mendaki gunung di kawasan Nusantara yang berlainan. Sehingga akan didapatlah koleksi puncak-puncak kawasan yang akan lebih memperkaya wawasan pendakian seseorang.

Kawasan manakah yang dapat kita jadikan target pendakian kawasan di wilayah Nusantara? Terserah Anda, sebetulnya. Anda mempunyai penilaian subyektif sendiri untuk membagi-bagi Nusantara ini ke dalam beberapa kawasan namun yang penting adalah setelah melakukan pendakian gunung di kawasan-kawasan yang berbeda tersebut maka anda mendapatkan suatu pencapaian tersendiri.

Namun tak ada salahnya bila kita membagi Nusantara ini ke dalam tujuh kawasan kepulauan besar seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Maka didapatlah tujuh puncak yang boleh-boleh saja kita katakan seven summits juga. Sehingga pendakian kawasan tersebut tentunya akan menjadi suatu khazanah pendakian tersendiri yang tak seorang pun akan menyangkal keanggunan pencapaiannya.

Eksplorasi Sang Maestro
Michaelangelo memahat patung demikian memikatnya, karena ia melakukannya berbeda dengan pemahat patung lainnya. Seorang pemahat kala itu melihat pekerjaannya memahat sebagai upaya menyambung hidup atau sebuah ekspresi diri. Namun ketika Michaelangelo ditanya kenapa ia memahat batu, sang maestro dengan anggun bersabda “… Aku melihat malaikat dalam sebuah batu dan aku akan terus memahat sampai ia terbebaskan.”

Apakah Anda telah mendengar bisikan-bisikan lembut undangan para malaikat untuk menuju puncak gunung yang suci, menyaksikan kesempurnaan ciptaan Sang Agung dan menikmati setiap peluh sebagai proses mengasah gergaji anda, wahai kawan? Cukuplah Anda menjawabnya secara anggun, yaitu dengan niat yang agung segera melakukan packing perlengkapan pendakian gunung dan berangkat. Nah, lalu kapan akan Sahabat memulai? (Jogja, 29 Agustus’08, tuk para sahabat pandu “realbackpaker” keadilan)

SUMBER

Oleh: Fathy Farhat khan | Agustus 26, 2008

Hanya Sebutir Pasir (sekedar penyambut Ramadhan yang agung)

Hanya Sebutir Pasir (sekedar penyambut Ramadhan yang agung)

Para wartawan pernah dibuat terheran-heran oleh Sir Edmun Hillary ketika mereka coba menyelidiki sesuatu yang paling ditakuti oleh penakluk pertama Mount Everest itu. Dalam sebuah wawancara, hillary mengatakan bahwa ia tidak pernah takut pada binatang buas, jurang yang curam, bongkahan es raksasa atau padang pasir yang luas dan gersang sekalipun!

“Lalu apa yang anda takuti?” buru seorang wartawan “sebutir pasir yang terselip di sela-sela jari kaki” jawab Hillary singkat. “why?” “Sebutir pasir yang masuk di sela-sela jari kaki sering sekali menjadi awal malapetaka. Baca Lanjutannya…

Oleh: Fathy Farhat khan | Agustus 21, 2008

Jalan cinta para pejuang

Jalan cinta para pejuang

hahahaha….

kadang aku tertawa…

hemmmmmmm…..

kadang aku bingung….

ada teman jadi sedih…..

ada temen jadi futur…..

ada temen jadi bingung…..

ada temen jadi ge-er…

ada temen jadi salah mengartikan ketulusan seorang sahabat……

dikarenakan “cinta”…..

wahai kawan……,

cintailah kawanmu……

cintailah temanmu……

cintailah saudaramu…….

cintailah kawan seperjuanganmu……

hanya karena Allah sahaja…..

yang hanya cintamu kan terpuaskan jikalau kau melihat yang kau cintai tetap di jalan-Nya….

yang hanya cintamu kan terpuaskan jikalau kau melihat yang kau cintai masih taat pada-NYa….

yang hanya cintamu kan terpuaskan jikalau kau melihat yang kau cintai masih dalam cinta-NYa….

hingga akhirnya……….

keterpuasanmu kan mencapai puncaknya…

ketika ternyata sang Khaliq tlah mengabulkan do’amu…

kau dan yang kau cintai dipertemukan oleh-Nya dalam jannah-Nya…..

dan kau tak kan pernah kecewa…..

dan kau tak kan pernah sedih, karena kesedihan tak sanggup menyentuh jiwamu….

dan kau kan tersenyum……

dan seisi dunia kan ikut tersenyum bersamamu…..

seraya bersenandung : “life is beautiful…”

Amiiin….

(jogja, kamis, 21 agustus 2008, menjelang berbuka….)

Oleh: Fathy Farhat khan | Agustus 15, 2008

Berburu “Seven Summits” di Nusantara

Berburu “Seven Summits” di Nusantara

Pegunungan adalah tempat paling kuat di Bumi,
dan menuntut penghormatan tertinggi
(Erik Weihenmayer)

Nama “Seven Summits” telah lama dikenal dalam dunia pendakian gunung di dunia dan disebut-sebut sebagai sebuah grand slam penjelajahan yang sebenarnya. Petualangan ekstrem ini merupakan pendakian puncak-puncak tertinggi di setiap benua.

Ketika Mount Everest sebagai puncak tertinggi di dunia telah banyak didaki, orang bertanya-tanya pendakian spektakuler apalagi yang dapat dibuat oleh umat manusia dalam menantang keperkasaan alam. Maka lahirlah ekspedisi-ekspedisi dari berbagai negara termasuk Indonesia yang terobsesi dengan grand slam penjelajahan ini.

Sekian puncak yang wajib didaki adalah Mc Kinley (6.194 m) di Amerika Utara, Aconcagua (6.960 m) di Amerika Selatan, Kilimanjaro (5.895 m) di Afrika, El’brus (5.642 m) di Eropa, Vinson Massif (4.897 m) di Antartika, dan tentunya Everest (8.848 m) di Asia. Sedangkan satu lagi puncak yang dianggap mewakili lempengan Australia-Oseania mempunyai beberapa pilihan yang sama mendebarkan, yaitu Cartenz Pyramid di Pulau Papua, Mount Cook di Selandia Baru, atau Kosclusko di Australia.

“Seven summits” nusantara
Bagi para pecinta kegiatan mendaki gunung amatir dan wisatawan, mimpi “Seven Summits” ini tentunya cukup mustahil untuk dilaksanakan mengingat diperlukan skill, persiapan dan biaya yang maksimum. Bahkan walaupun semuanya telah terpenuhi, faktor alam seringkali menjadi penentu keberhasilan. Sejarah mencatat banyak pendaki profesional yang gagal bahkan gugur di medan perjuangannya yang terakhir di gunung-gunung tersebut.

Namun pendaki amatir dan wisatawan di Indonesia yang tetap mempunyai obsesi “Seven Summits” dapat mewujudkan keinginannya tersebut dengan skala yang lebih kecil, yaitu dalam kawasan Kepulauan Nusantara tercinta ini. Dengan sedikit romantisme, kita dapat mempersatukan seluruh kepulauan ini dengan mengoleksi puncak-puncak tertinggi di pulau-pulau di Nusantara.

Beberapa gunung tujuan misalnya Semeru di Jawa, Kerinci di Sumatera, Latimojong di Sulawesi, Binaiya di Maluku, Rinjani di Nusa Tenggara, Kinabalu di Kalimantan, dan tentunya Carstenz Pyramid di Papua. Ketujuh puncak itu memiliki tingkat kesulitan yang tidak terlalu tinggi –bahkan beberapa dapat dinaiki tanpa memerlukan skill dan pengalaman yang terlampau tinggi. Tentunya asalkan memiliki kesehatan dan kebugaran yang cukup prima untuk mendaki gunung daerah tropis. Bahkan Kinabalu di Malaysia sudah dikelola sedemikian rupa sehingga menjamin suatu perjalanan pendakian yang menyenangkan.

Kecuali Carstenz Pyramid, rata-rata keenam puncak memiliki jalur yang tipikal. Suasana tropis dan jalur utama pendakian cukup memadai bagi wisatawan yang ingin mendakinya. Yang perlu diperhatikan adalah kecermatan dalam memprediksi kondisi alam dan jalan setapak yang dilalui. Pada jalur pendakian di Latimojong, misalnya, vegetasi lumut masih banyak dijumpai merundung jalur pendakian, sehingga tak sejelas jalur pendakian di Semeru. Juga kerimbunan dan kecuraman jalur pendakian di Kerinci tentunya kontras berbeda dengan jalur pendakian umumnya di Rinjani yang gersang (jalur Sembalun).

Perburuan puncak
Keenam puncak selain Carstenz Pyramid di Papua adalah puncak-puncak yang lebih memungkinkan dan mudah untuk didaki. Mari kita telusuri persiapan-persiapan yang diperlukan untuk mencapainya. Sedangkan pendakian Carstenz Pyramid dengan salju abadinya lebih memerlukan persiapan dan skill dibandingkan yang lain sehingga sangat cocok untuk dijadikan closing climbing dengan pembahasan yang lebih memadai di lain kesempatan.

Persiapan yang diperlukan peminat adalah terlebih dahulu mengumpulkan informasi-informasi yang diperlukan baik dari literatur atau rekomendasi sejawat. Sebagai contoh Kinabalu merupakan taman nasional yang dikelola secara profesionnal dan mempunyai aturan cukup ketat yang harus diikuti. Perjalanan ke sana harus didukung keuangan yang memadai. Jalur pendakian normal memakan waktu 2–3 hari untuk sampai ke puncak.

Perbekalan menjadi hal yang kritis selama pendakian. Pendaki sedapat mungkin mempunyai informasi yang akurat mengenai jalur pendakian terutama tempat–tempat yang tersedia sumber air alami. Terkadang sumber air alami (bukan curahan hujan) yang tersedia sangat jauh dari base camp sehingga amat bijak apabila dalam logistik kita selalu ada persediaaan air yang cukup. Namun hal-hal tersebut kiranya tidak perlu dirisaukan di Kinabalu karena telah tersedia akomodasi yang memadai.

Tak kalah pentingnya adalah memilih rekan satu tim yang nantinya akan bahu-membahu dalam pendakian agar tercipta sebuah perjalanan yang menyenangkan. Terlebih lagi apabila perjalanan akan memakan waktu yang lama karena jauhnya tempat yang dituju. Bila diperlukan di Rinjani dan Kinabalu selalu tersedia porter atau guide yang siap membantu pendakian dengan upah yang wajar.

Adalah sikap yang bijak untuk senantiasa ramah dan bersosialisaisi dengan penduduk di tempat mulainya pendakian. Akan sangat bermanfaat bila kita beristirahat terlebih dahulu di desa terakhir sebelum memulai pendakian. Di Kerinci, Rinjani, dan Kinabalu telah banyak tersedia pesanggrahan di kaki gunung bagi yang ingin beristirahat.

Banyak yang bisa digali dari sosialisasi dengan masyarakat sekitar kaki pegunungan selain persahabatan. Kita bisa mengumpulkan informasi yang diperlukan seperti sumber mata air, cerita-cerita legenda, kondisi alam serta flora fauna sekitar gunung. Dari pengalaman penulis, penduduk desa akan memberikan bantuan lebih dari yang sekedar diharapkan apabila kita dapat melakukan pendekatan yang tepat. Bahkan kerap kita tak dapat membayangkan bagaimana membalas kebaikan mereka kelak.

Pulang dengan selamat
Perlu disadari pendakian gunung bukanlah olahraga yang mudah. Selain dibutuhkan respek terhadap alam, juga diperlukan kearifan untuk mengukur kemampuan sendiri. Pendakian maraton beberapa gunung sekaligus dalam waktu berdekatan bukanlah hal yang bijak. Manusia adalah mahluk sosial yang senantiasa rindu kepada masyarakatnya. Ambisi yang tidak wajar hanya akan menumbuhkan sikap anti sosial, sesuatu yang sayangnya terkadang menjangkiti para pendaki.

Kondisi fisik yang tidak prima akan menjadi hambatan utama perburuan puncak. Kelelahan dan turunnya kondisi tubuh akan segera dirasakan. Daya tahan terhadap cuaca pun menjadi sangat rentan. Demikian pula kondisi psikis yang merindukan suasana sosial akan menjadikan perjalanan kurang menyenangkan karena perasaan ingin cepat pulang begitu mendominasi. Perasaan takabur karena merasa telah berpengalaman pun menjadi musuh yang tak kurang berbahaya.

Wisatawan dan penggemar olahraga mendaki gunung dapat menjadikan puncak-puncak pulau sebagai suatu perburuan yang menyenangkan dengan suasana kompetisi yang penuh persahabatan. Pada saat-saat mendekati puncak, tiada ada yang lebih indah selain bertemu dengan sesama pendaki lain. Itulah persahabatan yang sulit dilukiskan. Tanpa pernah bertemu atau menyapa, tiba-tiba saja senyuman dan sapaan begitu mudah terlontar. Jauh sekali dengan suasana perkotaaan yang hampa dari keramahan.

Kalangan penggiat kegiatan outdoor dan wisatawan penggemar olahraga mendaki gunung dapat merangkaikan petualangannya menjadi sebuah bunga rampai perjalanan yang menebarkan wangi semangat keindonesiaan yang kental. Ibarat lembaran-lembaran khazanah berharga yang bila dirangkum akan menjelmakan sebuah magnum opus bagi penghayatnya. Sebuah tantangan petualangan yang sulit diabaikan begitu saja… (Thanks To Catros)

Oleh: Fathy Farhat khan | Agustus 12, 2008

“Sudah Kubuang-buang”

“Sudah Kubuang-buang”
oleh Emha Ainun Nadjib (1953- )

Sudah kubuang-buang tuhan
Agar sampai ke yang tak terucapkan
Namun tak sekali ia sedia tak hadir
Terus mengada mengada bagai darah mengalir Baca Lanjutannya…

Oleh: Fathy Farhat khan | Agustus 12, 2008

Untuk seorang sahabat…..

Untuk seorang sahabat…..

Sungguh…

Aku bersyukur sekali di anugerahi oleh-Nya seorang sahabat sepertimu…

Seorang sahabat yang cukup tahu bagaimana seharusnya menilai sebuah arti persahabatan,

…bagaimana seharusnya menjadikan sebuah persahabatan menjadi bernilai di sisi-Nya,

…, bagaimana seharusnya menjadikan sebuah persahabatan menjadi bermanfaat bagi sesama….

Trimakasih Tuhan yang tlah menganugrahkan persahabatan ini dengan takdir-Mu…

Trimakasih Sahabatku yang tlah men-save namaku dalam folder sahabatmu dengan file ekstensi ”sahabat” dengan segala makna terbaik yang terkandung dalam kata sederhana itu…

Alhamdulillah Ya tuhan…, Trimakasih sahabatku……

Jogja, 9 Mei 2007 @ 1.46 am,

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori