Seni Hidup

>>> “Seni Hidup”

Ya….hidup adalah seni, dan kehidupan membutuhkan seni….

Seni itu membuat lembut….

Seni itu membuat indah……

Seni membuat mempesona…

Seni membuat histeris..

Tapi awas wahai kawan……

Karena Seni tanpa bingkai moral……

….adalah bukan seni!!!

>>> “Cahaya Maha Cahaya”

oleh Emha Ainun Nadjib (1953- )

Usiaku enam hari
Enam hari yang menakjubkan: Tuhan bermain
ruang
…..waktu di tangannya, bisa kau bayangkan?
Hari pertama cahaya maha cahaya
Cahaya maha cahaya tak bisa dikisahkan
Bisa, mungkin. Tapi kita ini dungu
Ilmu kita tingkat serdadu

Hari kedua kegelapan tiada tara
Beberapa kata mulai bisa mengucap, karena
…..rahasia mulai berlaku di depanmu sebagai
…..rahasia
Hari ketiga kau adalah aku, aku masih aku
Baru kelak tuhan, semua kita nangis cengeng
Kita melempari galaksi supaya bintang runtuh, kita
…..mengais-ais bumi mencari emas permata untuk
…..kita kunyah-kunyah demi mengisi hari dengan
…..ketololan

Di hari keempat engkau adalah dunia ini
Kalau kau gembira bukanlah kau yang bergembira
…..sebab sesungguhnya tak kau perlukan
…..kegembiraan
Kalau kau bersedih kehidupanlah yang bersedih
…..sebab kesedihan tak sanggup menyentuh jiwamu
Kau tak membutuhkan suka duka, harta atau
…..kepapaan, kau tak terikat oleh penjara atau
…..kemerdekaan, kau lebih perkasa dari ketakutan
…..atau keberanian, kau lebih tinggi dari derajat
…..atau kehinaan, kau lebih besar dari kehidupan
…..atau maut

Di manakah engkau bersemayam kiranya?
Hari keempat telah senja dan fajar hari kelima
…..mulai menyiapkan pemenuhan janjinya
Hari keliga gelap gulita
Hari di mana engkau sirna, di mana engkau tak
…..engkau
Hari yang menjelmakanmu kembali menjadi cahaya
Menyati ke hari keenam cahaya maha cahaya

1988

Sumber:
CAHAYA MAHA CAHAYA, kumpulan sajak Emha Ainun Nadjib, Pustaka Firdaus, Jakarta cetakan kelima, Mei 1993

>>> “Puisi Jenaka Muslim Modern”

oleh A. Mustofa Bisri (1944- )Kaum muslimin pun modern
Lihat, mereka berwudlu dengan tissu basah berparfum
Berjumatan di kantor dengan tak lupa sholat
……….Tahiyattal-kantor
Imam dan khatibnya cukup televisi 50 inci
Tak memerlukan uang transport dan gaji

Kaum muslimin pun modern
Lihat, mereka mendapatkan jodoh
Melalui komputer biro jodoh
Dan mereka kawin via telepon
Dengan penghulu tape-recorder
Dan mas kawin kartu kredit

Mereka berkomunikasi jarak jauh
Dengan bahasa-bahasa yang tak saling menyentuh
Mereka tak lagi berbeda pendapat
Karena beda pendapat menghabiskan enersi
Dan tidak praktis sama sekali
Mereka menggantinya dengan kebencian dan
………permusuhan
Toh senjata-senjata mutakhir siap dipergunakan
Mulai cacimaki tajam hingga rudal-rudal kejam

Kaum muslim pun modern
Bukan, bahkan agaknya sejak lama sekali
Mereka sendiri sudah merupakan robot-robot sejati

1410 H/1989 M

Sumber:
Horison Sastra Indonesia 1 Kitab Puisi, Taufiq Ismail dkk (ed.), Jakarta 2002.

Responses

  1. wah bagus puisinnya 🙂

    salam kenal 🙂

    ***

    Oh iya sekalian promo dan mohon komentar FREE EBOOK saya yang pertama 🙂 bisa di download di sini 🙂

    http://hmcahyo.wordpress.com/2008/12/11/ibsn%e2%80%99s-first-e-book-beta-version-mohon-masukan/

    >>> thanks, buat suport en kunjungannya ya bro!! lam kenal juga bro!! oke, langsung meluncur ke TKP tuk ngebaca first e-book nya mas cahyo 🙂

  2. Bagus banget,aku suka baçanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: